KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK
Nama : Weni Ayu Sundari
NIM :
11901108
Semester/Kelas :
4/G PAI
Mata Kuliah :
Magang 1
KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK
A.
DEFINISI KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK
Karakteristik
merupakan suatu gaya hidup seseorang maupun nilai yang berkembang secara
teratur setiap hari yang mengacu kepada tingkah laku yang mengarah pada
kepribadian yang lebih konsisten dan mudah dipahami. Dimana karakteristik dapat
diartikan sebagai ciri yang lebih ditonjolkan dalam berbagai aspek tingkah laku
( Daryanto & Rachmawati, 2015: 15)
Peserta
didik merupakan orang yang mendapatkan pengaruh dari berbagai kelompok yang
sedang melaksanakan pendidikan. Peserta didik merupakan unsur yang sangat
penting dalam kegiatan pembelajaran. Karena peserta didik dijadikan sebagai
titik persoalan dalam berbagai aktifitas kegiatan belajar mengajar. Dalam aspek
psikologis, peserta didik merupakan titik penentu dalam proses pertumbuhan dan
perkembangan baik dalam artian bentuk fisik maupun psikis. Namun, peserta didik
juga berhak mendapatkan bimbingan yang terarah dan konsisten dalam menentukan
kemampuan yang sebenarnya. Peserta didik disebut sebagai insan yang menarik.
Karena memiliki fisik dan psikis yang unik. Berbagai potensi yang dimiliki oleh
peserta didik masih memerlukan perkembangan guna mencapai kebutuhan untuk
perkembangan yang sangat optimal.
Menurut
Reigeluth (1993) seorang ilmuan pembelajaran yang menetapkan bahwa kedudukan
karakteristik peserta didik merupakan komponen terpenting dalam pengembangan
pengelolaan strategi pembelajaran. Dalam hal ini, proses pembelajaran yang
didalamnya terdapat dimensi, metode, dan strategi yang telah dikembangkan dalam
pembelajaran. Sehingga menganalisis karakteristik peserta didik merupakan suatu
langkah awal yang harus dikembangkan. Strategi dan model dikembangkan dengan
tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan optimal. Oleh karena itu,
pembelajaran harus berpandangan kepada karakteristik peserta didik.
Karakteristik
peserta didik dapat didefinisikan sebagai aspek maupun kualitas seorang peserta
didik. Berbagai aspek yang yang ada dalam diri peserta didik dapat dikaitkan
dengan penataan pembelajaran. Sehingga karakteristik peserta didik dapat
mempengaruhi pemilihan strategi pembelajaran. Sesungguhnya, karakteristik pada
peserta didik dididentifikasi dapat mempengaruhi pelaksanaan pembelajaran dan
hasil belajar peserta didik.
Kemampuan
yang dimiliki oleh setiap peserta didik merupakan tonggak untuk memilih
strategi pembelajaran yang cocok. Kemampuan peserta didik yang dijadikan
sebagai kemampuan awal atau tonggak ini berperan untuk meningkatkan pelaksanaan
pembelajaran. Hal ini menyebabkan perubahan besar yang membantu memudahkan
proses internal yang terjadi pada peserta didik pada saat meraka melakukan
kegiatan belajar
Secara
umum karakteristik peserta didik yang disebut sebagai karakter individu ini
dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor usia, latar belakang, dan
keturunan (gender). Faktor – faktor tersebut telah dibawa sejak peserta didik
lahir. Tetapi faktor tersebut juga dipengaruhi oleh keadaan dari lingkungan
sosial yang menjadi titik awal menentukan kualitas hidup. Teori pembelajaran
dijadikan sebagai acuan pada saat pengoptimalan proses pembelajaran. Sehingga
teori tersebut dapat dikatakan sebagai teori yang komprehensif. Memasuki tahun
1960, Ausabel mengemukakan bahwa dalam mengoptimalkan perolehan hasil belajar,
pengorganisasian, dan mengungkapkan adanya pengetahuan baru yang bertujuan
untuk menciptakan dan mempuat pengetahuan baru yang sangat bermakna bagi
peserta didik. Hal – hal yang perlu dilakukan adalah dengan menghubungkan
pengetahuan yang telah dimiliki oleh peserta didik. (Umamah, 2014:101)
Dalam perkembangannya, peserta didik juga
memiliki suatu hambatan dalam proses pembelajaran. Sehingga banyak berbagai
faktor yang mempengaruhi karakteristik peserta didik antara lain:
1.
Dalam diri individu sendiri :
Sejak berada dalam kandungan, janin tumbuh dan
berkembang seseuai dengan proses tahapannya. Jadi akan terdapat berbagai faktor
yang mempengaruhinya, yakni:
a.
Bakat
Setiap bakat yang dimiliki oleh peserta didik
dapat tumbuh dengan sendirinya dan tergantung pada peserta didik itu sendiri
mau atau tidak dalam mengembangkan potensi bakat yang dimiliki.
b.
Sifat keturunan
Berdasarkan fakta yang dimiliki oleh manusia,
maka besar kemungkinan bagi peserta didik untuk memiliki sifat yang berdasarkan
garis keturunan yang dimiliki oleh orang tua mereka.
c.
Dorongan dan instik
Dorongan dan instik yang dimiliki oleh peserta
didik berasala dari batin mereka masing – masing. Sehingga dorongan disini
merupakan ambisi dari peserta didik untuk terus maju dalam meningkatkan proses
pembelajaran.
2.
Luar dari Individu
Faktor selanjutnya yakni berdasarkan dengan
keadaan lingkungan tempat tinggalnya yang dapat mempengaruhi karakteristik
peserta didik antara lain :
a.
Makanan
Makanan maupun minuman dapat mempengaruhi dan
menghambat perkembangan peserta didik karena setiap makanan dan minuman yang
dikonsumsui dapat menjadi gizi dan racun bagi kesehatan tubuh manusia.
b.
Iklim
Iklim yang dimiliki oleh suatu negara juga
dapat memperuhi karakteristik peserta didi. Karena bila iklim di sekitar mereka
baik dan tidak buruk. Maka sedikit kemungkinan untuk menghambat perkemangan
karakteristik peserta didik.
c.
Ekonomi
Ekonomi yang yang dimiki oleh pserta didik juga
mampu menghambat perkembangan karakteristik peserta didik. Karena semakin
tinggi ataupun semakin rendah suatu ekonomi yang dimiliki maka akan besar
pengaruhnya terhadap karakteristik yang dimiliki oleh peserta didik.
3.
Umum
4.
Intelegensi
Kemampuan
intelegensi ataupun intelektual yang dimiliki oleh peserta didik dapat
mempengaruhi ke dalam proses pembelajaran peserta didik
a.
Jenis kelamin
Jenis kelamin
juga bisa disebut sebagai penghambat karakteristik peserta didik. Karena setiap
laki – laki maupun wanita memilki perbedaan yang signifikan untuk diketahui
oleh peserta didik.
B.
KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK
Menurut Reigeluth (1993) mengungkapkan bahwa
karakteristik peserta didik terbagi menjadi empat yakni antara lain :
1.
Pengetahuan
Pengetahuan merupakan suatu intelektual yang
dimiliki oleh peserta didik. Pengetahuan inilah yang disebut dengan intelegensi
siswa yang harus tetap dipertahankan untuk kemampuan peserta didik.
Menurut Reigeluth (dalam Degeng, 1999)
pengetahuan peserta didik diidentifikasi menjadi tujuh jenis yang termasuk
kedalam kemampuan awal peserta didik. Kemampuan awal peserta didik ini antara
lain:
a.
Arbitrarily meaningfull knowledge (pengetahuan
bermakna tak terorganisasi).
Pengetahuan ini merupakan tempat untuk mengaitkan
suatu kemampuan menghafal. Hafalan dalam hal ini merupakan hafalan yang tidak
terlalu penting. Namun masih memiliki makna penting bagi pengetahuan peserta
didik. Sehingga hafalannya hanya untuk memudahkan retensi.
b.
Analogic knowledge (pengetahuan analogis)
Pengetahuan seperti ini merupakan pengetahuan
baru yang mengaitkan pengetahuan dengan kemampuan peserta didik maupun
pengetahuan baru yang masih sama dan serupa serta berada di luar topik atau isi
yang sedang dibacarakan.
c.
Superordinate knowledge (pengetahuan tingkat
yang lebih tinggi)
Pengetahuan tingkat yang lebih tinggi ini
merupakan pengetahuan yang memiliki tingkat yang berada diatas analogic
knowledge. Jadi dalam hal ini pengetahuan tingkat lebih tinggi dapat berfungsi
sebagai tonggak atau kerangka bagi pengetahuan yang baru.
d.
Coordinate knowledge (pengetahuan setingkat)
Pengetahuan setingkat ini merupakan pengetahuan
yang berfungsi sebagai pengetahuan yang komparatif.
e.
Subordinate knowledge (pengetahuan tingkat yang
lebih rendah)
Pengetahuan tingkat yang lebih rendah ini
merupakan pengetahuan yang berfungsi untuk menyatakan kebenaran pengetahuan
baru yang sebenarnya. Sehingga dapat dibuktikan dengan memberikan
contoh-contohnya.
f.
Experiential knowlege (pengetahuan pengalaman)
Pengetahuan berdasarkan pengalaman ini memiliki
fungsi dan tujuan yang sama dengan pengetahuan tingkat yang lebih rendah. Pada
pengetahuan pengalaman ini juga mengkonkritkan atau memberikan fakta dengan
menyediakan bukti contoh untuk pengetahuan baru.
g.
Cognitive strategy (strategi kognitif)
Strategi kognitif yang dimaksud ialah suatu
strategi yang menyediakan berbagai cara dalam mengolah pengetahuan baru.
Sehingga akan ada pemikiran ataupun pengungkapan kembali terhadap pengetahuan
yang telah tersimpan dalam memori ingatan.
2.
Gaya
Reigeluth mengidentifikasi gaya belajar peserta
didik menjadi tiga tipe yakni gaya belajar visual, gaya belajar auditori, dan
gaya belajar kinestetik. Gaya belajar pada peserta didik merupakan suatu tipe
dengan tujuan untuk meningkatkan hasil belajar mereka. Sehingga peserta didik
akan selalu menggali potensinya dengan cara gaya belajar mereka sendiri. Setiap
peserta didik yang memiliki gaya belajar visual mereka akan belajar memahami
dengan apa yang mereka lihat. Sedangkan peserta didik yang memiliki gaya belajar
auditori lebih memahami pembelajaran dengan cara mendengar apa yang mereka
dengar. Sementara gaya belajar kinestetik memahami dengan cara menggerakkan
tubuhnya, entah itu sentuhan ataupun pada rabaan. Namun dalam kenyataannya
setiap peserta didik pasti memiliki ketiga gaya belajar tersebut. Tetapi hanya
salah satu yang mendominasi dalam gaya belajar mereka. Mengenai tentang gaya
belajar peserta didik juga dapat dilihat sebgai berikut.
a.
Gaya belajar visual
Dalam gaya belajar visual yang terjadi pada
peserta didik dapat diketahui melalui ciri – ciri utama yakni dengan
menggunakan indera penglihatan. Reigeluth (1999) menjelaskan bahwa gaya belajar
dengan visual ini lebih suka berbicara cepat, suka mencoret-coret saat menelpon,
dan lebih suka melihat gambar peta beserta penjelasannya.pada umumnya peserta
didik dengan gaya visual ini biasanya menerapkan suatu strategi visual yang
sangat kuat dengan menyerap suatu informasi dengan ungkapan gambar. Ciri-ciri
gaya belajar visual yakni antara lain:
·
Bicara cepat
·
Lebih mementingkan penampilan
·
Bersikap rapi dan teratur
·
Tidak mudah terganggu bila ada keributan
·
Lebih suka membaca daripada dibacakan
·
Lebih suka mencorat coret meski bukan hal yang
penting
·
Lebih suka mengingat wajah orang daripada
mengingat namanya
b.
Gaya belajar auditorial
Bagi peserta didik yang memiliki gaya belajar
auditori dapt dikenal dan diketahui dengan ciri-ciri yang lebih dominan yakni
dengan menggunakan kekuatan indera pendengaran. Reigeluth (1993) menjelaskan
bahwa peserta didik yang memiliki gaya belajar auditori lebih suka berbicara
daripada membaca maupun menulis. Reigeluth (1999) juga menyatakan bahwa “aku
mendengar apa yang kau katakan”. Kecepatan dalam berbicara juga sedang. Pada
saat menyerap informasi umumnya orang bergaya belajar auditori juga menerapkan
adanya strategi pendengaran yang sangat kuat. Sehingga pendidik yakni guru juga
harus menerapkan pembelajaran yang memberikan suatu variasi pengajaran yang
dapat diterima dan dimengerti oleh peserta didik dengan gaya belajar auditori.
Ciri ciri gaya belajar auditorial yakni:
·
Pada saat bekerja suka berbicara kepada dirinya
sendiri
·
Merasa terganggu bila ada keributan
·
Kesulitan dalam menulis maupun mengarang
·
Lebih suka bercerita
·
Menyukai lelucon dari lisan daripada dari komik
·
Bila berbicara dalam irama yang berpola
·
Bila berdiskusi selalu menggunakan kata kata
yang panjang
·
Selalu mengulangi kata kata yang terlontar dan
dapat menirukan nada pembicaraan orang lain
·
Lebih suka mendengarkan music
·
Bila berbicara dengan orang lain selalu
memalingkan penglihatannya dan tidka melakukan kontak mata saat berbicara
dengan orang lain.
c.
Gaya belajar kinestetik
Reigeluth (1993) menjelaskan bahwa peserta
didik yang menggunakan gaya belajar kinestetik lebih suka menggerakkan anggota
tubuhnya saat berbicar dan sulit untuk diam. Pada umumnya peserta didik yang
menggunakan gaya belajar kinestetik memahami informasi dengan menggunakan
strategi fisik dan mampu berekspresi dengan fisik mereka. Adapun ciri-ciri yang
dapat melihat peserta didik dengan menggunakan gaya belajar kinestetik antara
lain:
·
Berbicara dengan perlahan
·
Membutuhkan waktu untuk berpikir dalam
berbicara maupun dalam bertindak\
·
Penampilan selalu rapi
·
Tidak mudah terganggu dengan keributan
·
Bila belajar selalu menggunakan praktek
menghafal dengan berjalan
·
Membuat keputusan berdasarkan perasan
3.
Minat
Minat merupakan suatu hal yang berpengaruh
besar tehadap belajar peserta didik. Apabila materi pelajaran yang dipelajari
tidak sesuai dengan minat peserta didik maka, peserta didik akan bersemangat
dan tidak berambisi dalam mempelajarinya. Karena bagi mereka, tidak akan ada
daya tarik yang membuat mereka untuk berambisi dalam mempelajarinya. Sehingga
tidak akan ada kepuasan bagi peserta didik. Tapi jika materi pelajarannya
diminati dan dan menarik peserta didik maka akan menumbuhkan minat dan menambah
semangat terhadap kegitan pembelajaran. Peserta didik yang kurang meminati
materi pembelajaran, maka dapat diusahakan untuk mempunyai minat yang cukup
besar dengan cara menjelaskan menggunakan metode yang menarik dan hal yang
berguna bagi peserta didik. Serta dapat dilakukan dengan mendongkrak semngat
peserta didik untuk menjelaskan materi yang berhubungan dengan cita-cita yang
berkaitan dengan materi pelajaran yang akan dipelajari.
4.
Motivasi belajar
Motivasi dalam proses pembelajaran sangat
diperlukan. Karena pendidik harus mampu mendorong dan mendongkrak peserta didik
agar dapat belajar dengan tekun dan bersemangat dalam merencanakan maupun
melaksanakan sesuatu yang selalu ada hubungannya dengan kegiatan belajar.
Menurut Reigeluth (dalam Degeng, 1999) motivasi dapat dibedakan menjadi dua
macam yakni:
a.
Motivasi intrinsik
Motivasi intrinsik merupakan hal yang berasal
dari dalam diri peserta didik sendiri yang dapat mendorong untuk melakukan
tindakan belajar. Motivasi intrinsik merupakan suatu kesenangan materi yang
menyangkut tentang kehidupan masa depan peserta didik sendiri.
b.
Motivasi ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik merupakan suatu motivasi yang
datang dari luar individu peserta didik yang dapat mendorong untuk tekun
belajar. Adanya hadiah maupun pujian merupakan contoh yang konkrit pada
motivasi ekstrinsik yang dapat mendongkrak peserta didik untuk belajar. Tidak
adanya motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik dapat berpengaruh terhadap
kurang bersemangatnya dalam melakukan proses mempelajari materi pelajaran baik
di sekolah maupun di rumah.
C.
CARA MENGANALISIS KARAKTERISTIM PESERTA DIDIK
Reigeluth (dalam Degeng, 1999) dalam
menganalisis karakteristik peserta didik dapat dilakukan dengan
mengklasifikasikan menjadi tiga cara yakni kemampuan yang berkaitan dengan:
1. Pengetahuan
yang akan diajarkan
2. Pengetahuan
yang berada diluar pengetahuan yang dibicarakan
3. Pengetahuan
mengenai ketrampilan generik
Pada klasifikasi yang pertama ini berhubungan
dengan pengetahuan yang akan diajarkan dan meliputi berbagai tingkat
pengetahuan sebagai berikut:
1.
Pengetahuan tingkat yang lebih tinggi (Superordinate
knowledge)
Pengetahuan tingkat yang lebih tinggi ini
merupakan pengetahuan yang memiliki tingkat yang berada diatas analogic
knowledge. Jadi dalam hal ini pengetahuan tingkat lebih tinggi dapat berfungsi
sebagai tonggak atau kerangka bagi pengetahuan yang baru.
2.
Coordinate knowledge (pengetahuan setingkat)
Pengetahuan setingkat ini merupakan pengetahuan
yang berfungsi sebagai pengetahuan yang komparatif.
3.
Pengetahuan tingkat yang lebih rendah (Subordinate
knowledge)
Pengetahuan tingkat yang lebih rendah ini
merupakan pengetahuan yang berfungsi untuk menyatakan kebenaran pengetahuan
baru yang sebenarnya. Sehingga dapat dibuktikan dengan memberikan
contoh-contohnya.
4.
Pengetahuan pengalaman (Experiential
knowlege)
Pengetahuan berdasarkan pengalaman ini memiliki
fungsi dan tujuan yang sama dengan pengetahuan tingkat yang lebih rendah. Pada
pengetahuan pengalaman ini juga mengkonkritkan atau memberikan fakta dengan
menyediakan bukti contoh untuk pengetahuan baru.
Sedangkan dalam klasifikasi kedua berkaitan
dengan pengetahuan yang berada di luar konteks pengetahuan yang akan
dibicarakan yang meliputi berbagai identifikasi pengetahuan sebagai berikut:
1.
Pengetahuan bermakna tak terorganisasi (Arbitrarily
meaningfull knowledge).
Pengetahuan ini merupakan tempat untuk
mengaitkan suatu kemampuan menghafal. Hafalan dalam hal ini merupakan hafalan
yang tidak terlalu penting. Namun masih memiliki makna penting bagi pengetahuan
peserta didik. Sehingga hafalannya hanya untuk memudahkan retensi.
2.
Pengetahuan analogis (Analogic knowledge)
Pengetahuan seperti ini merupakan pengetahuan
baru yang mengaitkan pengetahuan dengan kemampuan peserta didik maupun
pengetahuan baru yang masih sama dan serupa serta berada di luar topik atau isi
yang sedang dibicarakan.
Adapun klasifikasi yang ketiga yang berhubungan
dengan pengetahuan tentang ketrampilan generik yakni meliputi:
1.
Strategi kognitif (Cognitive strategy)
Strategi kognitif yang dimaksud ialah suatu
strategi yang menyediakan berbagai cara dalam mengolah pengetahuan baru.
Sehingga akan ada pemikiran ataupun pengungkapan kembali terhadap pengetahuan
yang telah tersimpan dalam memori ingatan
Apabila dilihat dari tingkat penguasaan,
kemampuan awal peserta didik dapat diklasifikasikan menjadi tiga antara lain:
1.
Kemampuan awal siap pakai
Pada tahapan ini lebih mengacu pada kemampuan
awal, sebagaimana telah diidentifikasi oleh Reigeluth. Sehingga peserta didik
juga sudah bisa menguasainya. Selain itu peserta didik juga dapat memakainya
dalam situasi apaun.
2.
Kemampuan awal siap ulang
Pada tahapan ini mengacu pada kemampuan awal
peserta didik, dimana peserta didik masih belum menguasai materi yang
seharusnya dipahami. Sehingga peserta didik bergantung pada sumber sumber yang
releva seperti buku untuk menggunakan kemampuan awal siap ulang ini.
3.
Kemampuan awal pengenalan
Pada tahapan kemampuan awal pengenalan ini,
peserta didik perlu mengulangi beberapa kali agar lebih memahaminya. Sehingga
dalam kemampuan awal ini masih tergantung pada sumber buku yang relevan dan
peserta didik juga terkadang belum menguasainya.
Pada setiap pengidentifikasian kemampuan yng
telah diidentifikasi (Reigeluth, 1993) mengungkapkan bahwa kemampuan awal
peserta didik ada yang masih mencapai tingkat pengenalan, adapula yang mencapai
siap pakai. Sehingga dalam menganalisis karakteristik peserta didik perlu
memperhatikan setiap kemampuan awal yang bervariasi penguasaannya dari peserta
didik yang satu terhadap peserta didik yang lain. Pendidikpun juga perlu
memperhatikan karakteristik peserta didik. Dalam hal inikemampuan awal sangat
penting berperan sebagai pengembangan dalam pembelajaran khususnya dalam
memilih strategi pembelajaran.
SUMBER
Daryanto
& Rachmawati, Tutik. 2015. Teori Belajar dan Proses Pembelajaran
yang Mendidik. Yogyakarta: Penerbit Gava Media
Effects,
I., Instructional, O. F., Characteristics, L., & Learning, O. N. (n.d.).
executive summary.
Reigeluth_1999.pdf.
(n.d.).
Reigeluth,
C. M. (n.d.). Instructional Theory and Technology for the New Paradigm of
Education.
Reigeluth,
M. (n.d.). FRI ~ CIPL ~ S OF EDUCATIONAL SYSTEMS DESIGN, 117–131.
Umamah,
Nurul. 2014. Bahan Ajar Perencanaan Bidang Studi. Jember:
Komentar
Posting Komentar