KULTUR SEKOLAH
Nama : Weni Ayu Sundari
NIM :
11901108
Semester/Kelas :
4/G PAI
Mata Kuliah :
Magang 1
KULTUR SEKOLAH
A.
KULTUR SEKOLAH
Salah satu faktor penentu keberhasilan
penyelanggaraan proses pendidikan adalah kultur yang dibangun dengan
baik. Kultur sekolah yang baik diharapkan akan berhasil meningkatkan mutu
pendidikan yang tidak hanya memiliki nilai akademik namun sekaligus bernilai
afektif. Bulach, Malone dan Castleman (1994) telah melakukan penelitian yang
dilakukan di 20 sekolah menunjukkan bahwa perbedaan kultur sekolah
menunjukkan perbedaan yang berarti yang ditunjukkan dengan perbedaan prestasi
akademik siswa yang berasal dari sekolah yang berkultur baik dibandingkan
dengan prestasi siswa dari sekolah yang berkultur kurang baik. Hal ini
berarti bahwa sekolah yang berhasil membangun dan memberikan kultur yang baik
akan menghasilkan prestasi belajar yang tinggi dan tidak hanya bernilai
akademik tapi juga menghasilkan kultur dengan nilai-nilai kemanusiaan yang lebih
baik, berbudaya, berahlak dan berbudi pekerti luhur (Zamroni, 2009)
Paparan di atas menunjukkan bahwa pengembangan
kultur sekolah harus menjadi prioritas penting. Sekolah harus secara positif
membangun kultur sekolah yang dilakukan dengan sebaik-baiknya,
mengimplementasikannya secara konsisten, memperbaikinya secara berkelanjutan
melalui peningkatan mutu terpadu agar sekolah benar-benar menjadi sebuah
lembaga pendidikan yang terhormat yang berhasil melaksanakan amanat UUSPN
untuk meyelenggarakan pendidikan yang bermutu yang dapat menghasilkan siswa
yang cerdik cendikia, mandiri dan berbudi luhur.
Kamus Sosiologi Modern menyatakan bahwa kultur adalah totalitas
dalam sebuah organisasi, way of life, termasuk nilai-nilai,
norma-norma dan karya-karya yang diwariskan antar generasi. Kultur merupakan
kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh individu dan kelompok yang dapat
ditunjukkan oleh perilaku organisasi yang bersangkutan.
Kultur sekolah adalah pola nilai, keyakinan dan tradisi yang
terbentuk melalui sejarah sekolah (Deal dan Peterson, 1990). Stolp dan Smith
(1994) menyatakan bahwa kultur sekolah adalah pola makna yang dipancarkan
secara historis yang mencakup norma, nilai, keyakinan, seremonial, ritual,
tradisi dan mitos dalam derajat yang bervariasi oleh warga sekolah.
Kultur sekolah adalah budaya sekolah yang menggambarkan pemikiran-pemikiran
bersama (shared
ideas), asumsi-asumsi (assumptions), nilai-nilai (values),
dan keyakinan (belief) yang dapat memberikan
identitas (identity)
sekolah yang menjadi standar perilaku yang diharapkan. (Zamroni, 2009).
Lembaga sekolah sebagai pihak internal seharusnya membangun kultur
sekolah berdasarkan pemikiran-pemikiran lembaga yang ditunjang oleh gaya
kepemimpinan kepala sekolah, perilaku guru dan siswa serta pegawai dalam
memberikan layanan kepada para siswa, orang tua, dan lingkungannya sebagai
pihak eksternal. Kultur positif sekolah seharusnya menjadi kekuatan utama dalam
mengarahkan seluruh warga sekolah menuju perubahan-perubahan positif.
Pada umumnya setiap sekolah telah memiliki kulturnya sendiri namun
sekolah yang berhasil adalah sekolah yang memiliki kultur positif yang sejalan
dengan visi dan misi sekolah.
Kultur sekolah adalah
serangkaian keyakinan, harapan, nilai-nilai, norma, tata aturan, dan rutinitas
kerja yang diinternalisasi warga sekolah sehingga mempengaruhi hubungan sejawat
dan kinerja warga sekolah dalam upaya mencapai tujuan sekolah. Kultur inilah
yang menjadi pembeda antara sekolah satu dengan lainnya.
Menurut gareth R. Jones
dan Jennifer M. George (2009), sebagai sebuah organisasi, sekolah ada yang
memiliki kultur kuat (strong) dan ada pula yang lemah (weak).
Ketika warga sekolah, dari kepala sekolah hingga bagian kebersihan, memiliki
komitmen yang tinggi terhadap nilai-nilai yang disepakati bersama maka sekolah
tersebut memiliki kultur yang kuat (strong). Nilai kedisiplinan,
misalnya, yang disepakati dan diterapkan bersama secara bertanggung jawab dan
penuh komitmen maka sekolah tersebut memiliki kultur yang kuat.
Sebaliknya, jika seluruh
warga sekolah atau sebagian warga sekolah tidak memiliki komitmen terhadap
implementasi nilai-nilai yang disepakati maka sekolah tersebut memiliki kultur
organisasi yang lemah. Sekolah tampak sewrawut karena warganya kurang disiplin
atau "sak geleme udele dewe" (bahasa Jawa). Dan prestasi
apapun akan sulit tumbuh di lingkungan sekolah yang tidak memiliki kemapanan
kultur positif.
B.
FUNGSI KULTUR SEKOLAH
Dalam upaya meningkatkan mutu sekolah dituntut untuk terus menerus
melakukan perbaikan, pengembangan kualitasnya melalui peningkatan kultur
sekolah. Kultur sekolah memegang peranan penting dalam peningkatan mutu karena
memiliki empat fungsi, yaitu:
1.
Sebagai
alat untuk membangun identitas (jati diri).
2.
Kultur
sekolah akan mendorong warga sekolah untuk memiliki komitmen yang tinggi.
3.
Kultur
sekolah akan mendorong terbentuknya stabilitas dan dinamika sosial yang
berkualitas. Hal ini penting agar lingkungan sekolah menjadi kondusif
tidak terganggu oleh konflik yang akan menghambat peningkatan mutu pendidikan.
4.
Kultur
sekolah akan membangun keberartian lingkungan yang positif bagi warga sekolah.
C.
MITRA SEKOLAH MEMBANGUN KULTUR
Dalam membangun kultur, sekolah tidak dapat berdiri sendiri tetapi
memerlukan kerjasama dengan mitra kerjanya yaitu orang tua siswa, komite
sekolah dan para pemangku kepentingan lainnya.
Sekolah
harus menjadi learning organization yang
melakukan pembelajaran untuk mencapai apa yang diinginkan, yakni dengan
mengajak semua warga sekolah mengembangkan sistem dan pola berpikir yang lebih
baik. Disamping itu sekolah harus perlu melakukan evaluasi diri agar untuk
menjadi dasar perencanaan untuk \membangun kultur yang tepat sesuai dengan
kondisi nyata.
D.
MEMBANGUN KULTUR SEKOLAH
1.
Menetapkan Visi,
Misi, Tujuan dan Strategi Sekolah
Sebagai lembaga pendidikan sekolah perlu merumuskan visi, misi,
tujuan dan strategi. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 19
tahun 2007 tentang standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan
Pendidikan Dasar dan Menengah, visi adalah cita-cita bersama warga
sekolah dan segenap pihak yang berkepentingan pada masa yang akan datang yang
mampu memberikan inspirasi, motivasi dan kekuatan pada warga sekolah dan
segenap pihak yang berkepentingan untuk mencapainya. Misi sekolah adalah segala
sesuatu yang harus dilakukan untuk mewujudkan visi. Tujuan sekolah
menggambarkan tingkat kualitas yang ingin dicapai dalam jangka waktu menengah.
Strategi adalah cara-cara yang dilakukan sekolah untuk mencapai tujuan sesuai
dengan standar yang telah ditetapkan. Visi, misi, tujuan dan strategi sekolah
perlu dijadikan acuan oleh segenap warga sekolah agar menjadi daya dorong untuk
melakukan setiap kegiatan dalam rangka mencapai tujuan sekolah.
2.
Membangun dan
Memelihara Fisik Sekolah
Kultur sekolah mencerminkan budaya dan perilaku
dan moral sekolah sebagai sebuah lembaga. Terdapat tiga komponen yang dapat
menggambarkan karakteristik tersebut (Zamroni, 2009):
a.
Artifak dan Simbol-simbol, bagaimana bangunan
sekolah dihias, didekorasi dan dan dirawat,
b.
Nilai-nilai (values), bagaimana warga
sekolah berperilaku dan bertindak saat melakukan pekerjaan, berinteraksi dan
berkomunikasi.
c.
Asumsi-asumsi, adalah keyakinan termasuk agama
yang secara tidak disadari dan alami dimiliki oleh setiap warga sekolah.
Sekolah
seyogyanya mengusahakan agar komponen-komponen tersebut tidak menjadi kontraproduktif
karena:
a.
Menggunakan artifak dan symbol yang sudah rusak
dan usang sehingga tidak memberikan nuansa positif dan kepedulian pada proses
pembelajaran dan pendidikan untuk siswa.
b.
Tidak atau kurang menerapkan nilai-nilai dalam
setiap kegiatan sekolah, kurangnya membangun tanggung jawab dan toleransi dalam
setiap kegiatan sekolah.
c.
Memiliki asumsi, pendapat atau keyakinan yang
berdampak negatif seperti:
·
Pandangan yang memberikan label bahwa banyak
siswa yang bodoh, tidak belajar, malas.
·
Pendapat yang menyatakan bahwa orang tua siswa
tidak peduli dengan pendidikan putra-putrinya.
·
Asumsi yang menyatakan bahwa orang tua siswa
sekarang tidak peduli tentang pendidikan.
Kultur sekolah tidak hanya dapat direfleksikan
oleh bangunan fisik semata namun juga oleh aspek psikologis yang dapat
mengkondisikannya sebagai tempat belajar siswa dan mengajar guru.
3.
Penerapan
Nilai-nilai dan Agama
Sebagai sebuah organisasi, sekolah adalah lembaga budaya yang tidak hanya
memberikan pengajaran namun sangat penting untuk memberikan pendidikan kepada
segenap warganya. Para guru yang professional melakukan tugasnya untuk
mengajar, mendidik, membimbing, melatih, menggerakan bahkan mengarahkan
para siswa agar kelak menjadi manusia yang cendikia, mandiri dan berbudi pekerti
luhur. Diharapkan siswa kelak akan menjadi generasi yang akan ikut serta
membangun dan dan memimpin bangsa. Sekolah sebuah organisasi dengan demikian
perlu membangun kultur sekolah yang baik, sehat, dan positif.
Dalam membangun kultur sekolah yang baik, sehat dan positif perlu
didasari oleh pengakuan bahwa manusia adalah mahluk Tuhan Yang Maha Esa
sehingga segala apa yang dilakukan selalu diniatkan untuk beribadah kepada
Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama yang dianutnya. Keyakinan dan nilai-nilai
agama akan memberikan arahan untuk bekerja dan melakukan perbuatan yang
diridhoiNya. Hal ini akan memberikan dampak positif kepada warga sekolah agar
segala perbuatannya dapat dipertanggungjawabkan tidak hanya kepada manusia
semata tapi mendapatkan nilai lebih di mata Tuhan Yang Maha Esa.
E.
IMPLEMENTASI KULTUR SEKOLAH UNTUK PENINGKATAN MUTU
Peningkatan mutu yang ingin dicapai melalui
pengembangan kultur sekolah dapat dilaksanakan dengan dua cara yaitu melalui
proses pembiasaan dan meningkatkan pembiasaan tersebut menjadi sebuah sistem.
1.
Pembiasaan
Pada pembiasaan semua tingkal laku yang
bernilai kemuliaan tersebut masih berupa tindakan yang memerlukan arahan,
kontrol dan penyadaran dari orang lain. Contoh cara-cara yang bisa
dilakukan sekolah dalam membentuk pembiasan adalah :
a.
Sekolah menciptakan induk tata tertib
Induk tata tertib adalah sebuah pola pengaturan
terpadu yang mengkorelasikan segala macam tata tertib yang mengatur tugas
perbagian di sekolah.
b.
Pembudayaan sopan santun
c.
Membangun kesadaran siswa, dll.
2.
Mengubah
Pembiasaan Menjadi Sistem
Untuk bisa melestarikan pembiasaan dan mengubahnya menjadi sistem ada beberapa
contoh cara yang bisa ditempuh;
a.
Mengaplikasikan jiwa keteladanan
Jiwa keteladanan yang harus teramati adalah
adalah dari orang-orang penting di sekolah seperti kepala sekolah, wakil kepala
sekolah dan guru-guru senior.Tanpa kecuali tokoh-tokoh tersebut harus berperan
aktif bagi terciptanya sistem bertingkah laku terpuji di sekolah.
b.
Menciptakan Sekolah Sebagai Wawasan Wiyata
Mandala
Wawasan wiyata mandala adalah lingkungan
kehidupan sekolah yang bercorak edukatif yang diposisikan dalam sentral
kehidupan, menjadi poros utama yang harus dipedomani dalam bertingkah laku.
c.
Aplikasi Sistem Penghargaan dan Hukuman
Dirumuskan dan dibakukan serta diaplikasikan
secara konsisten.
d.
Berbagai hal yang berkaitan dengan penyimpangan
dalam tugas dipetakan sehingga teramati oleh semua warga sekolah untuk
dilakukan perbaikan.
F.
KESIMPULAN
Sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan
seyogyanya memiliki kultur sekolah yang positif agar secara terus menerus dapat
meningkatkan mutunya. Kultur sekolah yang positif akan menyemaikan nilai-nilai
kehidupan dan kemanusiaan sehingga sekolah benar-benar dapat menjadi agen
perubahan untuk menjadikan manusia Indonesia yang utuh, beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berahlak mulia, sehat,berilmu, cakap, kreatif,
mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Kultur sekolah harus dibangun berlandaskan
visi, misi dan tujuan sekolah dengan menerapkan manejemen partisipatif dan
terbuka sehingga benar-benar dipahami dan dihayati oleh seluruh warga sekolah
dan para pemangku kepentingan sehingga dapat diimplemntasikan secara ikhlas dan
konsisten untuk mencapai cita-cita yang telah ditetapkan dalam visi dan tujuan
sekolah.
Jika diimplementasikan dengan baik dan
konsisten, kultur sekolah dapat meningkatkan kualitasnya secara terpadu untuk
kepuasan pelanggan, baik pelanggan internal maupun pelanggan eksternal.
SUMBER
Conzemius, Anne dan O’Neill, Jan, (2002), The
Handbook for SMART School Teams, National Education Service, United States
of America
Departemen Pendidikan Nasional (2005), Rencana
Strategis Departemen Pendidikan Nasional 2005-2009, Jakarta
Sallis, Edward (2006) Total Quality
Management in Education Manajemen Mutu Pendidikan, IRCiSod, Jogjakarta
Zamroni (2009). Panduan Teknis
Pengembangan Kultur Sekolah, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta
Komentar
Posting Komentar