MANAJEMEN KELAS
Nama : Weni Ayu Sundari
NIM :
11901108
Semester/Kelas :
4/G PAI
Mata Kuliah :
Magang 1
MANAJEMEN KELAS
A.
PENGERTIAN MANAJEMEN KELAS
Kata
“manajemen” berasal dari bahasa Prancis kuno ménagement, yang memiliki arti seni
melaksanakan dan mengatur. Dalam hal ini, manajemen belum memiliki definisi
yang mapan dan diterima secara universal. Mary Parker Follet, misalnya,
mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang
lain. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan
mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi.
Sedangkan
manajemen kelas dalam bahasa Inggris sering disitilahkan dengan clasroom
management atau dalam bahasa Arab dikenal dengan
sebutan idarat al-fashl. Pengertian
dalam skup ini pada umumnya juga berkenaan dengan kegiatan-kegiatan yang
meliputi perencanaan, perngorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian,
pengawasan dan penilaian.
Wilford
A. Weber (James M. Cooper, 1995 : 230) mengemukakan bahwa Classroom
management is a complex set of behaviors the teacher uses to establish and
maintain classroom conditions that will enable students to achieve their
instructional objectives efficiently – that will enable them to learn.
Pengertian
di atas menekankan bahwa manajemen kelas lebih mengarah pada seperangkat
perilaku yang kompleks dimana guru menggunakan untuk menata dan memelihara
kondisi kelas yang akan memampukan para siswa mencapai tujuan pembelajaran
secara efesien.
Made
Pidarta, (1988: 4) memiliki pandangan yang lebih bersifat umum dari pada
pandangan di atas, dia menyatakan bahwa manajemen kelas ialah proses
mengintegrasikan sumber-sumber daya manusia (pelayan pendidikan) yang saling
berhubungan serta menjadi sistem total untuk menyelesaikan suatu tujuan.
Berdasarkan
uraian di atas, penulis dapat mendefinisikan manajemen kelas sebagai
serangkaian tindakan yang dilakukan guru dalam upaya menciptakan kondisi kelas
agar proses belajar mengajar dapat berjalan sesuai dengan tujuannya. Secara
sederhana juga dapat dikatakan bahwa manajemen kelas adalah upaya untuk menjaga
dan mempertahankan ketertiban kelas yang memungkinkan siswa dalam kelas
tersebut dapat belajar dengan efektif.
Sedangkan
tindakan-tindakan yang perlu dilakukan guru dalam menciptakan kondisi kelas
adalah melakukan komunikasi dan hubungan inter-personal antara guru-siswa
secara timbal balik dan efektif, selain melakukan perencanaan/persiapan
mengajar.
Manajemen kelas adalah ketentuan dan prosedur yang
diperlukan guna menciptakan dan memelihara lingkungan tempat terjadi kegiatan
belajar dan mengajar. Manajemen kelas juga dapat diartikan sebagai perangkat
perilaku dan kegiatan guru yang diarahkan untuk menarik perilaku siswa yang
wajar, pantas, dan layak serta usaha dalam meminimalkan gangguan (Hasri,
2009:41).
Manajemen
Kelas merupakan usaha guru untuk menata dan mengatur tata-laksana kelas diawali
dari perencanaan kurikulum, penataan prosedur dan sumber belajar, pengaturan
lingkungan kelas, memantau kemajuan siswa, dan mengantisipasi masalah-masalah
yang mungkin timbul di kelas.
Berikut ini beberapa
pengertian manajemen kelas dari beberapa sumber referensi buku:
- Menurut Nawawi (1982:115), manajemen kelas
adalah kemampuan guru atau wali kelas dalam mendayagunakan potensi kelas
berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk
melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan terarah, sehingga waktu dan
dana yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efisien untuk melakukan
kegiatan-kegiatan kelas yang berkaitan dengan kurikulum dan perkembangan
murid.
- Menurut Arikunto (1992:67), manajemen
kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung-jawab kegiatan
belajar-mengajar atau yang membantu dengan maksud agar dicapainya kondisi
yang optimal, sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang
diharapkan.
- Menurut Djamarah (2000:173), manajemen
kelas adalah suatu upaya memberdayagunakan potensi kelas yang ada
se-optimal mungkin untuk mendukung proses interaksi edukatif mencapai
tujuan pembelajaran.
- Menurut Suhardan dkk (2009:106), manajemen
kelas adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar
yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar
dengan baik sesuai dengan kemampuan. Atau dapat dikatakan bahwa manajemen
kelas merupakan usaha sadar untuk mengatur kegiatan proses belajar
mengajar secara sistematis.
- Menurut Sulistiyirini (2006:66), manajemen
kelas adalah proses atau upaya yang dilakukan oleh seseorang guru secara
sistematis untuk menciptakan dan mewujudkan kondisi kelas yang dinamis dan
kondusif dalam rangka menciptakan pembelajaran yang efektif dan efisien.
B.
TUJUAN MANAJEMEN KELAS
Tujuan pengelolaan kelas pada
hakikatnya telah terkandung dalam tujuan pendidikan. Secara umum tujuan
pengelolaan kelas adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar
siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual dalam kelas.
Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja,
terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin,
perkembangan intelektual, emosional dan sikap serta apresiasi pada siswa
(Djamarah dan Zain, 2010:178).
Tujuan manajemen kelas adalah
sebagai berikut (Wijaya dan Rusyan, 1994:114):
- Agar pengajaran dapat dilakukan secara
maksimal, sehingga tujuan pengajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.
- Untuk memberi kemudahan dalam usaha
memantau kemajuan siswa dalam pelajarannya. Dengan Manajemen Kelas, guru
mudah untuk melihat dan mengamati setiap kemajuan/ perkembangan yang
dicapai siswa, terutama siswa yang tergolong lamban.
- Untuk memberi kemudahan dalam mengangkat
masalah-masalah penting untuk dibicarakan dikelas demi perbaikan
pengajaran pada masa mendatang.
Sedangkan menurut Mudasir
(2011:20), tujuan manajemen kelas atau pengelolaan adalah sebagai berikut:
- Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik
sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar.
- Menghilangkan berbagai hambatan belajar
yang dapat menghalangi terwujudnya kegiatan belajar.
- Menyediakan dan mengatur fasilitas serta
perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai
dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelektual siswa di kelas.
- Membina dan membimbing sesuai dengan latar
belakang sosial, ekonomi dan budaya serta sifat individual.
C.
PRINSIP-PRINSIP MANAJEMEN KELAS
Dalam manajemen kelas terdapat beberapa prinsip
yang harus diperhatikan sebagai prasyarat menciptakan satu model pembelajaran
yang efektif dan efisien, yaitu (Muhaimin,2002:137-144):
1.
Prinsip Kesiapan (Readiness)
Kesiapan belajar ialah
kematangan dan pertumbuhan fisik, psikis, inteligensi, latar belakang
pengalaman, hasil belajar yang baku, motivasi, persepsi dan faktor-faktor lain
yang memungkinkan seseorang dapat belajar.
2.
Prinsip Motivasi (Motivation)
Motivasi adalah tenaga
pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu
tujuan tertentu. Adanya motivasi pada peserta didik maka akan
bersungguh-sungguh menunjukkan minat, mempunyai perhatian, dan rasa ingin tahu
yang kuat untuk ikut serta dalam kegiatan belajar, berusaha keras dan
memberikan waktu yang cukup untuk melakukan kegiatan tersebut serta terus
bekerja sampai tugas-tugas tersebut terselesaikan.
3.
Prinsip Perhatian
Perhatian merupakan suatu
strategi kognitif yang mencakup empat keterampilan yaitu berorientasi pada
suatu masalah, meninjau sepintas isi masalah, memusatkan diri pada aspek-aspek
yang relevan dan mengabaikan stimuli yang tidak relevan. Dalam proses
pembelajaran perhatian merupakan faktor yang besar pengaruhnya.
4.
Prinsip Persepsi
Prinsip umum yang perlu
diperhatikan dalam menggunakan persepsi adalah (a) makin baik persepsi mengenai
sesuatu makin mudah peserta didik belajar mengingat sesuatu tersebut. (b) dalam
pembelajaran perlu dihindari persepsi yang salah karena hal ini akan memberikan
pengertian yang salah pula pada peserta didik tentang apa yang dipelajari (c)
dalam pembelajaran perlu diupayakan berbagai sumber belajar yang dapat
mendekati benda sesungguhnya sehingga peserta didik memperoleh persepsi yang
lebih akurat.
5.
Prinsip Retensi
Retensi adalah apa yang
tertinggal dan dapat diingat kembali setelah seseorang mempelajari sesuatu.
Dengan retensi membuat apa yang dipelajari dapat bertahan atau tertinggal lebih
lama dalam struktur kognitif dan dapat diingat kembali jika diperlukan. Karena
itu, retensi sangat menentukan hasil yang diperoleh peserta didik dalam proses
pembelajaran.
6.
Prinsip Transfer
Transfer merupakan suatu
proses dimana sesuatu yang pernah dipelajari dapat memengaruhi proses dalam
mempelajari sesuatu yang baru. Dengan demikian, transfer berarti pengaitan
pengetahuan yang sudah dipelajari dengan pengetahuan yang baru dipelajari.
Pengetahuan atau keterampilan yang diajarkan di sekolah selalu diasumsikan atau
diharapkan dapat dipakai untuk memecahkan masalah yang dialami dalam kehidupan
atau dalam pekerjaan yang akan dihadapi kelak.
D.
FUNGSI
MANAJEMEN KELAS
Selain memberi makna penting bagi tercipta dan
terpeliharanya kondisi kelas yang optimal, manajemen kelas juga memiliki
fungsi-fungsi tertentu. Fungsi manajemen adalah elemen-elemen dasar yang akan
selalu ada dan melekat di dalam proses manajemen yang akan dijadikan acuan oleh
manajer dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan.
Fungsi manajemen secara umum pertama kali
diperkenalkan oleh seorang industrialis Perancis bernama Henry Fayol pada awal
abad ke-20. Secara garis besarnya, manajemen
kelas dapat berfungsi sebagai :
1.
Perencanaan (planning) adalah
memikirkan apa yang akan dikerjakan dengan sumber yang dimiliki. Perencanaan
dilakukan untuk menentukan tujuan perusahaan secara keseluruhan dan cara
terbaik untuk memenuhi tujuan itu. Dalam hal ini guru mengevaluasi berbagai
rencana alternatif sebelum mengambil tindakan dan kemudian melihat apakah
rencana yang dipilih cocok dan dapat digunakan untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi
manajemen karena tanpa perencanaan, fungsi-fungsi lainnya tak dapat berjalan.
2.
Pengorganisasian (organizing) dilakukan
dengan tujuan membagi suatu kegiatan besar menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih
kecil. Pengorganisasian mempermudah guru dalam melakukan pengawasan terhadap
cara kerja peserta didik. Pengorganisasian dapat dilakukan dengan cara
menentukan tugas apa yang harus dikerjakan, siapa yang harus mengerjakannya,
bagaimana tugas-tugas tersebut dikelompokkan, dan lain sebagainya.
3.
Pengarahan (directing) adalah
suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok berusaha untuk
mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah
kepemimpinan (leadership) seorang guru.
4.
Pengevaluasian (evaluating) adalah
proses pengawasan dan pengendalian proses belajar mengajar untuk memastikan bahwa
jalannya pembelajaran sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Seorang guru
juga dituntut untuk menemukan masalah yang ada dalam operasional pembelajaran, kemudian
memecahkannya sebelum masalah itu menjadi semakin besar.
E.
PENDEKATAN-PENDEKATAN
OPERASIONAL DALAM PENGELOLAAN ATAU MANAJEMEN KELAS
Pendekatan-pendakatan operasional yang dapat
digunakan dalam pengelolaan atau manajemen kelas, menurut Wilford A. Weber
(James M. Cooper, 1995 : 233), adalah sebagai berikut :
1.
Pendekatan Otoriter, yang berarti, upaya
menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas melalui penggunaan
disiplin, siswa perlu diawasi dan diatur.
2.
Pendekatan intimidasi, atau kegiatan guru untuk
menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas melalui intimidasi.
3.
Pendekatan permisif, yaitu memberikan kebebasan
siswa, apa yang ingin dilakukannya, sementara guru hanya mengawasinya.
4.
Pendekatan masak. Pendekatan ini dilakukan
dengan menciptakan suasana kelas yang mengikuti petunjuk/resep yang telah
disajikan terlebih dahulu, mengenai apa yang boleh dan apa yang tidak.
5.
Pendekatan instruksional, yaitu seperangkat
kegiataan guru untuk menciptakan suasana kelas yang efektif melalui perencanaan
pembelajaran yang bermutu dan dilaksanakan dengan baik.
6.
Pendekatan modifikasi tingkah laku, dengan
mengembangkan tingkah laku peserta didik yang diinginkan dengan mengurangi
tingkah laku yang tidak diinginkan.
7.
Pendekatan penciptaan iklim sosio-emosional,
yaitu dengan mengembangkan hubungan interpersional yang baik dan iklim
sosio-emosional kelas yang positif antar guru dan siswa.
8.
Pendekatan sistem proses kelompok atau dinamika
kelompok, yakni upaya menumbuhkan dan mempertahankan organisasi atau kelompok
kelas yang efektif.
Dari delapan pendekatan tersebut yang dianggap
mampu untuk mengoptimalisasikan pengelolaan kelas secara efektif adalah
pendekatan modifikasi perilaku, iklim sosio-emosional, dan sistem proses
kelompok/dinamika kelompok.
F.
MASALAH
DALAM MANAJEMEN KELAS
Adapun masalah-masalah yang sering dijumpai
dalam manajenen kelas, secara garis besar dapat dikelompokkan ke dalam dua
kategori yaitu : masalah individual dan masalah kelompok. Munculnya masalah
individual disebabkan beberapa kemungkinan tindakan siswa seperti :
1.
Tingkah laku yang ingin mendapat perhatian
orang lain.
2.
Tingkah laku yang ingin menujukkan kekuatan
3.
Tingkah laku yang bertujuan menyakiti orang
lain
4.
Peragaan ketidakmampuan
Sedangkan masalah-masalah kelompok yang kadang
muncul dalam kelas dapat berupa :
1.
Kelas kurang kohesif lantaran alasan tingkat
kemampuan, jenis kelamin, suku, tingkatan sosial ekonomi, dan sebagainya
2.
Penyimpangan dari aturan-aturan yang telah
disepakati sebelumnya
3.
Anggota kelas mereaksi negatif terhadap salah
seorang anggotanya
4.
Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya
dari persoalan-persoalan yang sedang dikerjakan.
5.
Prosedur dan Rancangan Manajemen Kelas
SUMBER
Hasri,
Salfen. 2009. Sekolah Efektif dan Guru Efektif. Yogyakarta:
Aditya Media Printing and Publising.
Nawawi,
Hadari. 1982. Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas Sebagai
Lembaga Pendidikan. Jakarta : Gunung Agung.
Arikunto,
Suharsimi. 1992. Pengelolaan Kelas dan Siswa Sebuah Pendekatan
Evaluatif. Jakarta: Rajawali Pers.
Djamarah,
Syaiful Bahri. 2000. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif.
Jakarta: Rineka Cipta.
Suhardan,
Dadang et.all. 2009. Manajemen Pendidikan. Alfabeta:
Bandung.
Sulistiyirini.
2006. Manajemen Pendidikan Islam. Surabaya: Lembaga Kajian
Agama dan Filsafat/Elkaf.
Wijaya,
Cece dan Rusyan, A. Tabrani. 1994. Kemampuan Dasar Guru Dalam Proses
Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mudasir.
2011. Manajemen Kelas. Yogyakarta: Zanafa Publishing.
Muhaimin.
2002. Paradigma Pendidikan Agama Islam. Bandung: Remaja
Rosyda Karya.
Djamarah,
Syaiful Bahri dan Zain, Aswan. 2010. Strategi Belajar Mengajar.
Jakarta: Rineka Cipta.
Dirjen
PUOD dan Dirjen Dikdasmen,Pengelolaan Kelas Seri Peningkatan Mutu Jakarta
: Depdagri dan Depdikbud. 1996
James
M Cooper, Classroom Teaching Skills, D.C. Heath and Company, Lexington
1995
Made
Pidarta, Manajemen Pendidikan Indonesia, Bina Aksara, Jakarta,
1988
Tjiptohadi, Diklat
Nasional Strategi Pengembangan Manajemen Kelas Inovatif , LPPAPSI,
Universitas Airlangga, 2008
Komentar
Posting Komentar